Syuf’ah

Syariat Islam digunakan untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, menyingkirkan kejahatan dan menyingkirkan kemadharatan. Ia memiliki aturan yang lurus dan hukum-hukum yang adil demi tujuan yang terpuji dan maksud-maksud yang mulia. Pengaturannya didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan dan sesuai dengan hikmah dan kebenaran. Karena itulah ketika ada persekutuan dalam benda-benda yang tidak bergerak (seperti tanah dan rumah), seringkali terjadi kerusuhan dan menjurus kapada tindak kejahatan sehingga sulit dilakukan pembagian terhadap barang itu, maka pembuat syari’at yang bijaksana menetapkan Syuf’ah bagi sekutu atau mitra usaha.

Dengan kata lain, jika salah seorang dari dua sekutu menjual bagiannya dari benda-benda yang tidak bergerak dan menjadi persekutuan diantara keduanya, maka bagi sekutu yang tidak menjual, dapat mengambil bagian dari pembeli dengan harga yang sama, sebagai upaya untuk menghindarkan kerugiannya karena persekutuan itu. Hal ini berlaku bagi seorang sekutu selagi benda-benda yang tidak bergerak yang disekutukan belum dibagi, tidak diketahui batasan-batasannya dan tidak dijelaskan jalan-jalannya. Tapi jika batasan-batasan dan garis-garis pemisahnya diketahui antara dua bagian dan jalan-jalannya dijelaskan, maka tidak ada Syuf’ah karena dampak persekutuan dan percampur adukan hak milik sudah tidak ada, yang karenanya ada penetapan terhadap permintaan hak untuk melepaskan barang yang dijual dari pembeli. Continue reading

GADAI

Permasalahan yang timbul dalam mu’amalah pada masa sekarang ini menjadi semakin men-sandiwara saja. Terlebih, tentang ar-rahn yang kita kenal dengan sebutan gadai. Hampir semua lembaga yang menyediakan jasa gadai syariah ternyata memiliki system yang berbanding terbalik dengan kulitnya. Dengan kata lain, system yang dijalani tidak berdasarkan risalah yang diturunkan Tuhan kepada Rasulullah saw, yakni “syariah” itu sendiri yang berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman yang didalamnya mengandung hukum-hukum sempurna tentang tata cara kehidupan manusia, yaitu mengatur hubungan antar manusia dan antara manusia dengan khaliqnya. Maka, di era modern dewasa ini perlu ditegaskan kembali peranan hukum islam untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dan senantiasa berkembang seiring perkembangan zaman yang sulit dihindari. Hal tersebut membuat hukum islam harus menunjukkan sifat elastisitas dan fleksibelitasnya guna memberikan solusi terbaik untuk kemashlahatan umat manusia.
Teknisnya, gadai ini dapat dilakukan oleh suatu lembaga tersendiri, seperti perum pegadaian, perusahaan swasta, perusahaan pemerintah, atau merupakan bagian dari produk-produk finansial yang ditawarkan bank. Prakteknya pun sangat strategis mengingat citra pegadaian memang telah berubah sejak enam-tujuh tahun terakhir ini. Pegadaian kini bukan lagi dipandang tempat masyarakat kelas bawah mencari dana ketika anaknya sakit atau butuh biaya sekolah. Akan tetapi kini juga menjadi tempat para pengusaha mencari dana segar untuk kelancaran bisnisnya. next

Ariyah (pinjam-meminjam)

apa kabar semua. . . ?

tau kan apa itu ariyah…? ariyah adalah istilah dalam fikih muammalat yang biasa kita kenal dengan pinjam-meminjam.

Allah mengajarkan keindahan disaat berada dalam kekurangan. Di saat kita meminjami seseorang agar semata-mata mencari ridho Allah SWT. Ketulusan ini harus di jaga jangan sampai tercemari oleh kerakusan untuk meraup keuntungan di balik kebutuhan saudaranya. Sungguh suatu lahan kedoliman yg sangat luas adalah jika ada orang yang butuh pertolongan dari kita dan saat itu kita mampu memenuhinya lalu kebutuhan tersebut kita manfaatkan dan kita rubah menjadi suatu penganiayaan dengan memberi pinjaman dengan syarat mengembalikan dengan keuntungan. Karena itu Allah benar-benar memperhatikan interaksi tersebut sehingga jika ada orang yang memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkannya agar tidak terjerumus dalam memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sehingga jika ada pememinjam dalam kondisi pailit yang sesungguhnya maka wajib yang meminjami untuk memberi tempo pada peminjam tanpa harus membebani tambahan sepeserpun. Dan begitu juga sebaliknya, Allah SWT akan murka kepada orang yang telah meminjam akan tetapi dia menunda pengembaliannya padahal disaat itu sudah jatuh tempo dan diapun mampu untuk membayarnya. Disini ada satu keserasian dalam irama membangun keindahan dalam kebersamaan agar tidak ada si kaya memeras si miskin dan tidak ada si miskin yang tidak menghargai kebaikan si kaya yang telah menolongnya. Lanjut